Sunday, March 18, 2012

Muhsin Hendricks: Homoseksual bukan sebuah Dosa

Pria Afrika Selatan, Muhsin Hendricks (43) adalah seorang imam dan homoseksual. Yayasannya The Inner Circle membantu orang-orang muslim yang bergulat dengan seksualitas mereka. Pesannya: “Muslim dan homo boleh!” Tidak semua orang setuju dan oleh karena itu pula Hendrick resminya sudah bukan imam lagi.
Imam Muhsin Hendricks tampak kecapaian. Ia berada di Belanda atas undangan organisasi homoseksual Belanda COC di Amsterdam. Agendanya padat. Keingintahuan orang terhadap ‘imam merah muda’, demikian julukannya, sangatlah besar.


Keletihan hilang
Namun ketika ia bicara tentang iman serta orientasi seksualnya, maka tanda-tanda keletihan itu sudah tidak tampak sama sekali.
“Menjadi muslim dan menjadi homo, keduanya identitas yang kuat. Keduanya menjadi bagian dari siapa saya. Saya berhasil mendamaikan keduanya.”
Bagi Muhsin Hendricks, itu tidaklah mudah. Ia berasal dari keluarga muslim ortodoks di Afrika Selatan. Kakeknya adalah imam di mesjid agung di Capetown. Sejak kecil Muhsin menyadari dirinya berbeda. Pada usia muda, ia lebih suka bermain dengan boneka, bukan mobil. Ia juga dipandang sebagai keperempuan-perempuanan sehingga sering diolok-olok. Ia baru tahu kalau homoseksualitas itu ada jauh sesudah itu.
Hendricks mencari kedamaian pada imannya, yang menurut banyak orang muslim tidak memiliki ruang bagi perasaan homoseksual, mencintai orang sejenis, baik antara laki-laki atau perempuan, dilarang. Itu merupakan salah satu dosa paling besar, yang hukumannya di sejumlah negara islam adalah: kematian.

Seksualitas bukan pilihan
Muhsin Hendricks memutuskan untuk mencari tahu apa kata Al-Quran mengenai homoseksualitas. Ia mengambil studi islam di Pakistan.
“Saya tidak bisa mempercayai apabila Allah yang maha kasih dan penyanyang mengutuk saya untuk sesuatu yang saya sendiri tidak memilihnya.”
Muhsin Hendricks mengambil kesimpulan dari studinya. Tidak disebut di manapun dalam Al-Quran bahwa homoseksualitas itu dilarang. Tidak pula dalam cerita Sodom dan Gomora, kota-kota yang dihancurkan Allah karena laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki. Menurut Hendricks, penduduk kota itu dihukum karena perkosaan, bukan karena hubungan seks.

Cerai
Ada ayat-ayat dalam Al-Quran di mana Allah mengakui keberadaan homoseksual, kata Hendricks. Seperti dalam surat Sura 24 ayat 31. “Disebutkan bahwa perempuan harus berpakaian ekstra ketika keluar rumah….. Tapi tidak di depan laki-laki yang tidak tertarik terhadap mereka. Mereka ini pasti homo,” kata Hendricks.
Mengakui bahwa ia menyukai sesama jenis dan terbuka mengenai hal itu, masih terlampau jauh bagi Hendricks. Oleh karena itulah ia sempat menikah dan memiliki tiga anak. Istrinya tahu bahwa suaminya homo, tapi memutuskan untuk tetap bertahan.
Imam Hendricks dihormati sebagai imam di mesjid-mesjid Capetown karena pengetahuannya. Namun perasaan menyukai sesama jenis tidak pernah luntur. Sesudah enam tahun menikah, akhirnya ia bercerai. Itu bisa dibilang saat Hendricks resmi ‘buka-bukaan’.

Pingsan
Ibunya pingsan ketika mendengar putranya Muhsin homo. Namun perlahan-lahan muncul pengertian. Sebagian dari keluarganya tidak mau lagi melihatnya.
Imam Hendricks, sementara ini telah menemukan pasangan hidupnya. Pasangannya itu beragama berbeda, Hindu, dan masih belum ‘buka-bukaan’.
Karirnya sebagai imam berakhir begitu saja. Pemahamannya mengenai homoseksualitas dan Islam tidak dianggap sesuai dengan doktrin resmi. Ia dicap sebagai penganut syaitan. Hendricks tidak pernah menerima ancaman fisik, tapi banyak kritik di sekelilingnya.

Bukan musuh
“Para imam melihat saya sebagai ancaman terhadap pandangan mereka mengenai Islam. Tapi saya bukanlah musuh. Saya mengundang mereka untuk terbuka terhadap pandangan yang berbeda. Penafsiran saya memberi orang muslim peluang untuk terus menjadi muslim dan sekaligus menerima diri sendiri.
Muhsin Hendricks tetap menganggap dirinya sebagai imam. Dengan yayasannya The Inner Circle, ia berupaya membantu sesama muslim yang hendak coming out - membuka jati diri sebenarnya. Hendricks menyelenggarakan seminar pemberdayaan bagi anak-anak muda mengenai kesadaran diri. Ia juga akan mengadakan seminar seperti ini di Belanda. Sudah enam puluh orang yang mendaftar.
sumber :Our Voice

No comments:

Post a Comment